Model ABM-RUSLE Ungkap Cara Paling Efektif Menekan Risiko Erosi di DAS Bolango

Oleh: Nisky Imansyah Yahya . 9 Januari 2026 . 08:53:05

Gorontalo, 9 Januari 2026 — Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (Prof. Dr. Fitryane Lihawa, M.Si; Dr. Iswan Dunggi, S.Hut, M.Si dan Rahmat Jaya Lahay, S.Si, M.Sc) mengembangkan model terpadu yang menggabungkan Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dan Agent-Based Modeling (ABM) untuk memetakan, memprediksi, dan menguji skenario pengendalian erosi di DAS Bolango. Hasilnya menunjukkan: perlindungan lereng curam dan praktik konservasi pertanian dapat menurunkan erosi secara signifikan, sekaligus membantu pemerintah merancang kebijakan tata ruang dan konservasi berbasis data.

DAS Bolango (sekitar 52.471 ha) mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan dalam periode 2013-2033. Model proyeksi menunjukkan hutan menurun 14,25%, sementara pertanian lahan kering naik 42,37% dan permukiman melonjak 122,24%. Perubahan ini berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, sedimen, dan kerawanan bencana hidrometeorologi di hilir. Penelitian ini memadukan: Analisis spasial GIS & Google Earth Engine untuk menghitung faktor-faktor erosi (R, K, LS, C, P). Prediksi perubahan penggunaan lahan hingga 2033 memakai model PLUS. ABM untuk mensimulasikan perilaku para aktor (mis. petani, pemerintah, investor) yang memengaruhi keputusan penggunaan lahan dan praktik konservasi. Model menunjukkan akurasi yang kuat (mis. R kuadrat = 0,83 dan RMSE = 12,7 t/ha/tahun), sehingga layak sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Temuan kunci (yang relevan untuk publik & pembuat kebijakan)Rata-rata erosi berubah dari waktu ke waktu. Rata-rata kehilangan tanah (soil loss) turun dari 59,08 t/ha/tahun (2013) menjadi 49,22 t/ha/tahun (2023), lalu sedikit naik menjadi 50,17 t/ha/tahun (2033). Tanpa intervensi, erosi total 2033 diproyeksikan sangat besar. Skenario Business-as-Usual (BAU) memproyeksikan erosi total mencapai 2,63 juta ton/tahun pada 2033. Intervensi berbasis praktik tani & perlindungan lereng sangat efektif. Skenario Contour Farming (tanam mengikuti kontur) menurunkan erosi total menjadi 1,92 juta ton/tahun (turun 27%). Skenario Perlindungan Lereng >25% (zona lindung pada lereng curam) menurunkan erosi menjadi 1,28 juta ton/tahun (turun 51%) dan meningkatkan stabilitas penggunaan lahan (fluktuasi turun 20%).

Kunci terbesar pengendalian erosi adalah tutupan vegetasi. Analisis sensitivitas menempatkan faktor C (tutupan lahan/vegetasi) sebagai pengaruh paling dominan terhadap variasi erosi—artinya pemulihan vegetasi, agroforestri, dan pencegahan pembukaan lahan di zona rawan adalah “tuas” kebijakan paling kuat.

Rekomendasi kebijakan, berdasarkan simulasi, peneliti menekankan dua arah aksi yang paling “berdampak cepat”: Percepat konservasi pertanian di lereng 9–25% melalui tanam kontur, strip cropping, mulsa, dan penguatan bahan organik tanah. Tegakkan perlindungan kawasan pada lereng >25% (selaras dengan arahan penataan ruang), karena ini menghasilkan penurunan erosi paling besar dan meningkatkan stabilitas tata guna lahan. “Temuan utama kami sederhana: melindungi lereng curam dan memperkuat praktik tanam kontur memberi dampak paling nyata menekan erosi. Dengan model ini, pemerintah daerah bisa menguji kebijakan di ‘laboratorium digital’ sebelum diterapkan di lapangan,” ujar tim peneliti. “Yang paling menentukan adalah vegetasi dan tata kelola penutupan lahan. Ketika tutupan membaik dan aturan dipatuhi, risiko erosi turun dan sistem DAS menjadi lebih stabil,” tambah tim peneliti.

Agenda

4 - 5 Juni 2026

Asesmen Lapangan untuk Prodi Pendidikan Fisika

Asesmen Lapangan untuk Akreditasi Program Studi Pendidikan Fisika oleh LAMDIK

7 Mei 2026

UPA BK Goes to Faculty

Kunjungan dan Sosialisasi UPA BK ke Fakultas MIPA UNG

6 Mei 2026

UPA Bahasa Goes to Faculty

Kunjungan UPA Bahasa ke Fakultas MIPA UNG

5 Mei 2026

Kunjungan Dewan Pengawas BLU UNG

Kunjungan Kerja Dewan Pengawas BLU UNG di Fakultas MIPA