
Gorontalo, 25 Oktober 2025 — Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Gorontalo berhasil mengimplementasikan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) dengan judul "Implementasi Bank Sampah dan Transformasi Ecobrick sebagai Media Edukasi Lingkungan Siswa SMA Negeri 1 Suwawa". Program inovatif ini mengubah sampah plastik menjadi furniture fungsional sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pengelolaan sampah berkelanjutan.
Tim Kreatif di Balik ProgramProgram ini diprakarsai oleh tim mahasiswa FMIPA UNG yang terdiri dari:
Di bawah bimbingan Djihad Wungguli, S.Pd., M.Si. sebagai Dosen Pendamping, tim ini merancang program yang tidak hanya mengatasi masalah sampah plastik, tetapi juga memberikan solusi kreatif dan edukatif bagi siswa.
Dari Sampah Menjadi Berkah: Konsep Ecobrick
Ecobrick adalah botol plastik bekas yang diisi padat dengan sampah plastik non-organik hingga menjadi "bata" keras yang dapat digunakan sebagai material konstruksi ramah lingkungan. Teknologi sederhana namun berdampak besar ini menjadi solusi inovatif untuk mengurangi volume sampah plastik yang mencemari lingkungan.
"Ecobrick adalah contoh nyata bahwa sampah plastik bukan akhir dari segalanya. Dengan kreativitas dan kesadaran lingkungan, sampah bisa bertransformasi menjadi produk yang bermanfaat. Kami ingin menanamkan mindset ini kepada siswa-siswa SMAN 1 Suwawa," ungkap Qiranizza Mokobombang, Ketua Tim.
Program yang Telah Terlaksana
Tim telah berhasil melaksanakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan ecobrick di SMAN 1 Suwawa. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh ratusan siswa yang langsung praktek membuat ecobrick dari sampah plastik yang mereka kumpulkan.
Melalui sesi pelatihan, siswa diajarkan:
Teknik memilah sampah plastik yang sesuai untuk ecobrickCara mengisi botol dengan benar agar menghasilkan ecobrick berkualitasProses pemadatan sampah plastik menggunakan tongkat kayuAplikasi ecobrick untuk berbagai kebutuhan konstruksiPara siswa sangat antusias dan banyak yang melanjutkan membuat ecobrick secara mandiri setelah pelatihan. "Kami tidak pernah tahu bahwa sampah plastik bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna. Sekarang kami lebih sadar untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan," ujar salah satu siswa peserta.
Program yang Akan Dikerjakan
Sebagai kelanjutan dari sosialisasi, tim akan merealisasikan pembuatan meja dan kursi dari ecobrick yang akan digunakan sebagai fasilitas di SMAN 1 Suwawa. Furniture ecobrick ini tidak hanya fungsional, tetapi juga menjadi reminder visual bagi seluruh warga sekolah tentang pentingnya pengelolaan sampah yang kreatif dan berkelanjutan.
"Meja dan kursi ecobrick ini akan menjadi showcase bahwa produk ramah lingkungan bisa kuat, estetis, dan fungsional. Ini akan menginspirasi siswa dan masyarakat bahwa furniture berkelanjutan adalah pilihan nyata," tambah Desya Paluwala.
Bank Sampah: Sistem Pengelolaan Berkelanjutan
Selain ecobrick, program ini juga mengimplementasikan konsep Bank Sampah di SMAN 1 Suwawa. Bank sampah adalah sistem pengelolaan sampah yang melibatkan pemilahan, pengumpulan, dan penjualan sampah yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui bank sampah, siswa belajar bahwa sampah memiliki nilai ekonomi dan dapat dikelola dengan sistem yang terorganisir. Konsep ini mengajarkan tanggung jawab lingkungan sekaligus literasi ekonomi sejak dini.
Luaran Program yang BerdampakProgram PKM-PM ini menargetkan tiga luaran utama:
1. Buku Pedoman Mitra. Panduan lengkap tentang implementasi bank sampah dan pembuatan ecobrick yang dapat digunakan oleh SMAN 1 Suwawa maupun sekolah lain yang ingin mengadopsi program serupa.
2. Laporan Akhir. Dokumentasi komprehensif tentang proses, tantangan, solusi, dan hasil program yang dapat menjadi referensi untuk pengembangan program sejenis di masa depan.
3. Akun Media Sosial. Platform digital untuk mendokumentasikan kegiatan, menyebarkan awareness, dan menginspirasi sekolah atau komunitas lain untuk mengadopsi program ecobrick dan bank sampah.
Apresiasi dari Sekolah
Pihak SMAN 1 Suwawa menyambut positif program ini. "Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa FMIPA UNG. Program ini sangat relevan dengan kurikulum pendidikan lingkungan hidup dan memberikan pembelajaran praktis yang bermakna bagi siswa kami. Ecobrick dan bank sampah bukan hanya mengajarkan pengelolaan sampah, tetapi juga kreativitas dan tanggung jawab sosial," ujar Kepala SMAN 1 Suwawa.
Dukungan Dosen Pendamping
Djihad Wungguli, S.Pd., M.Si., Dosen Pendamping program ini, menyatakan kebanggaannya terhadap dedikasi tim mahasiswa.
"Program ini menunjukkan bahwa mahasiswa FMIPA tidak hanya unggul dalam sains teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmunya untuk menyelesaikan masalah riil di masyarakat. Ecobrick adalah solusi sederhana namun powerful untuk krisis sampah plastik. Saya berharap program ini dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah di Gorontalo," jelasnya.
Replikasi Program ke Sekolah LainTim berharap program ini dapat menjadi pilot project yang direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di Gorontalo maupun daerah lain. Dengan dokumentasi yang lengkap melalui buku pedoman dan media sosial, transfer knowledge program ini dapat dilakukan dengan mudah.
"Kami tidak ingin program ini berhenti di SMAN 1 Suwawa. Kami ingin gerakan ecobrick dan bank sampah menjadi mainstream di sekolah-sekolah Indonesia. Bayangkan jika setiap siswa membuat ecobrick, berapa juta ton sampah plastik yang bisa kita kurangi dari lingkungan," ujar Ismail K. Zakaria dengan penuh harapan.
Kontribusi FMIPA UNG untuk SDGs
Program PKM-PM ini sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
SDG 4: Pendidikan BerkualitasSDG 11: Kota dan Komunitas BerkelanjutanSDG 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung JawabSDG 13: Penanganan Perubahan IklimFMIPA UNG melalui program-program mahasiswanya terus berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal dan nasional.
Pesan untuk Generasi Muda
"Sampah plastik adalah masalah kita bersama. Tapi kita tidak perlu merasa overwhelmed. Mulai dari hal kecil seperti membuat satu ecobrick, kita sudah berkontribusi untuk planet yang lebih bersih. Setiap botol yang kita isi adalah botol yang tidak mencemari lautan atau tanah. Yuk, mulai dari sekarang!" ajak Aminullah Hasan.
Program ini membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam mengatasi krisis lingkungan. Melalui kreativitas, kolaborasi, dan aksi nyata, generasi muda dapat membuat perbedaan yang signifikan.
Asesmen Lapangan untuk Akreditasi Program Studi Pendidikan Fisika oleh LAMDIK
Kunjungan dan Sosialisasi UPA BK ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan UPA Bahasa ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan Kerja Dewan Pengawas BLU UNG di Fakultas MIPA