
Gorontalo Januari 2026 — Kawasan yang dikenal sebagai “Negeri Seribu Megalit” menyimpan jejak geologi yang jauh lebih kompleks dari sekadar warisan budaya prasejarah. Melalui penelitian kolaboratif, Tim Peneliti Universitas Tadulako (Untad) yang diketuai Prof. Dr. Jusman Mansyur, M.Si dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) diwakili Dr. Aang Panji Permana., S.T., M.T berhasil mengungkap karakteristik batuan penyusun megalit berdasarkan analisis petrografi dan geokimia, sekaligus menelusuri asal-usul batuan purba di kawasan tersebut.
Penelitian berjudul “Characteristics of Rocks Based on Petrographic and Geochemical Analysis: A Study in the Land of a Thousand Megaliths, Indonesia” ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis batuan, komposisi mineral, serta kandungan kimia utama batuan yang dimanfaatkan sebagai bahan megalit. Kajian ini mengintegrasikan pendekatan geologi dan geoarkeologi, sehingga memberikan perspektif ilmiah baru terhadap situs megalitik di Indonesia.
Analisis petrografi menunjukkan bahwa batuan penyusun megalit didominasi oleh batuan beku vulkanik, terutama andesit dan basalt, dengan tekstur porfiritik hingga afanitik. Mineral utama yang teridentifikasi meliputi plagioklas, piroksen, hornblende, serta mineral opak, yang mencerminkan proses pembekuan magma dalam sistem vulkanik aktif. Selain itu terdapat batuan metamorf yakni amphibolite dan biotite-chlorite schist.
Sementara itu, hasil analisis geokimia menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) memperlihatkan kandungan unsur utama seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, dan MgO, yang khas batuan vulkanik. Interpretasi data geokimia menunjukkan bahwa batuan tersebut terbentuk pada lingkungan tektonik busur kepulauan (island arc) yang berkaitan erat dengan proses subduksi lempeng, karakter utama tatanan geologi Indonesia.
Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat megalitik masa lalu memanfaatkan batuan lokal yang tersedia di sekitarnya, sekaligus memperlihatkan hubungan erat antara kondisi geologi dan perkembangan budaya prasejarah. Selain bernilai akademik, hasil penelitian ini juga penting sebagai dasar konservasi situs megalit, khususnya dalam memahami ketahanan batuan terhadap pelapukan fisik dan kimia.
Menurut tim peneliti, hasil kajian ini memperkuat pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan riset interdisliner serta menjadi rujukan bagi akademisi, pemerintah daerah, dan pengelola cagar budaya dalam pengelolaan geoheritage secara berkelanjutan.
Penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal internasional Scopus (Q1) Geojournal of Tourism and Geosites edisi 2025. Penelitian ini didukung oleh Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui pendanaan PRPB. Penelitian ini juga menerima dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah.
Asesmen Lapangan untuk Akreditasi Program Studi Pendidikan Fisika oleh LAMDIK
Kunjungan dan Sosialisasi UPA BK ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan UPA Bahasa ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan Kerja Dewan Pengawas BLU UNG di Fakultas MIPA