
Gorontalo, Februari 2026 — Pengelolaan sampah berbasis prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) di Provinsi Gorontalo masih menghadapi tantangan serius. Hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam BioLink: Jurnal Biologi Lingkungan, Industri dan Kesehatan Vol. 12 No. 2 (Februari 2026) mengungkapkan bahwa dari total 30 Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS 3R) yang tersedia, hanya 12 unit atau sekitar 40 persen yang beroperasi secara aktif.
Penelitian berjudul “Evaluation of the Functionality of 3R Waste Management Facilities in Gorontalo Province” ini ditulis oleh Rahmawati A. Damiti, Fitryane Lihawa, dan Dewi Wahyuni Baderan dari Universitas Negeri Gorontalo. Studi ini menganalisis secara komprehensif aspek perencanaan, kelembagaan, manajemen operasional, partisipasi masyarakat, serta dukungan pemerintah daerah dalam pengelolaan TPS 3R.
“Permasalahan utama bukan hanya pada ketersediaan infrastruktur, tetapi pada lemahnya perencanaan dan kelembagaan,” ungkap Fitryane Lihawa, penulis korespondensi. Beberapa TPS 3R dibangun tidak sesuai dengan zona sanitasi, melayani jumlah penduduk di bawah standar minimal 800 jiwa, serta memiliki aksesibilitas yang rendah dari pusat wilayah pelayanan.
Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus di Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, dan Kabupaten Pohuwato, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah dokumen kebijakan. Hasilnya menunjukkan perbedaan kinerja yang cukup signifikan antarwilayah. Kabupaten Pohuwato dinilai sebagai praktik terbaik (best practice) dengan tingkat operasional TPS 3R mencapai 80 persen, didukung insentif pengelola, pendanaan pemerintah daerah, serta kemitraan strategis dengan organisasi lingkungan.
Sebaliknya, beberapa daerah masih menunjukkan ketergantungan tinggi pada bantuan pemerintah, sistem retribusi yang tidak konsisten, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah dari sumber. Kondisi ini berdampak pada rendahnya efektivitas TPS 3R dalam mengurangi timbulan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Melalui analisis SWOT, penelitian ini menempatkan pengelolaan TPS 3R di Provinsi Gorontalo pada Kuadran I, yang menunjukkan dominasi kekuatan internal dan peluang eksternal. Strategi agresif (SO) direkomendasikan, dengan fokus pada penguatan kelembagaan, optimalisasi infrastruktur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan kemitraan dengan sektor swasta dan komunitas.
Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi komunitas.
Informasi Publikasi:Damiti, R.A., Lihawa, F., & Baderan, D.W. (2026). Evaluation of the Functionality of 3R Waste Management Facilities in Gorontalo Province. BioLink: Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan, 12(2), 158–167.DOI: 10.31289/biolink.v12i2.16608
Kontak:Fitryane LihawaUniversitas Negeri GorontaloEmail: [email protected]
Asesmen Lapangan untuk Akreditasi Program Studi Pendidikan Fisika oleh LAMDIK
Kunjungan dan Sosialisasi UPA BK ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan UPA Bahasa ke Fakultas MIPA UNG
Kunjungan Kerja Dewan Pengawas BLU UNG di Fakultas MIPA